Tuesday, September 29, 2015

No title #Repost

Repost dari grup IIP malang raya, gak ada judulnya. Diposting oleh bunda mira tanggal 29 september 2015. Kalau ada yg tau sumber aslinya, monggo langsung comment

01. samar betul bagi kita masa depan yang dijelang anak-anak | apakah di masa depan ia masih taat Islam atau berontak
02. kita jalani Islam dengan penuh ketaatan | namun tiada jaminan pada keturunan
03. walau pada masa kecil anak kita dengan Islam sudah terbiasa | di masa depan akan banyak waktunya diajar teman bukan orangtua
04. mendidik anak di zaman ini benar mengkhawatirkan | disaat dosa dan maksiat menjadi bagian hidup dan kewajaran
05. maka kita takjub dengan ibu yang melalaikan saat anak bertumbuh | padahal itulah saatnya dia belajar agama pada ibunya secara penuh
06. uang takkan pernah ada cukupnya | masa perkembangan anak tiada gantinya
07. dengan beribu alasan peran ibu mulai hilang terganti | digantikan oleh pembantu yang dengan agama tidak mengerti?
08. sementara wanita berbangga dengan berapa banyak pnghasilan dirinya | mencoba mencari eksistensi diri dari uang yang tidak seberapa
09. "lalu bila tidak bekerja untuk apa tinggi bersekolah?" | inilah pemahaman salah kaprah pangkal dari generasi musibah
10. justru diperlukan ibu berpendidikan tinggi | untuk mendidik anak-anak agar ranggi
11. jangan berpikir seolah sayang bila pendidikan tinggi | hanya untuk mendidik anak dan rumah tangga ia dipakai
12. seolah-olah ibu rumah tangga pekerjaan tanpa perlu pengetahuan | padahal jadi ibu adalah pekerjaan sulit penuh tantangan
13. menjadi idola bagi anak-anak itu usaha luar biasa | tak banyak wanita yang sukses melakukannya
14. jangan heran bila satu saat anak melawan ibunya | wajar saja dia lebih sering bertemu teman dibanding orangtua
15. uang tidak bisa membeli ketaatan dan kepatuhan anak | atas waktu ibunya bukan kantor yang punya namun anak lebih berhak
16. tapi terkadang hidup memang menyudutkan wanita yang terpaksa bekerja | maka kita bertanya pada suaminya yang seharusnya dia
17. atau ada wanita hidup membesarkan anak sendiri | kita hanya berdoa Allah beri kekuatan kesabaran dan solusi
18. namun nasihat ini bagi wanita-wanita yang mungkin belum sadar | bahwa ada yang jauh lebih penting dari uang dan jabatan sekedar
19. karena karir terbaik wanita adalah menjadi ibu | maka pantaskan diri dengan iman dan ilmu
20. gagal pekerjaan bisa diulang kapan saja | gagal menjadi ibu hanya penyesalan tersisa
21. atau jangan-jangan emas perak sudah lebih menarik dari surga | hingga kita membandingkan antara harta dan pahala?
22. bila tidak tahu darimana memulai jadi ibu yang baik bagi anak | maka mulailah dengan memberikan waktu baginya yang paling banyak
23. karena taat itu asalnya dari cinta | cinta tumbuh dari waktu bersama-sama
24. lebih banyak berkisah padanya lebih banyak memeluknya | mudah-mudahan lebih taat pada Allah jadinya dia karena ibunya
25. semua sulit dan susah itu akan terganti sempurna | saat mereka berucap "karena Allah aku menyayangi bunda"

Friday, January 30, 2015

Tips weaning with love

Berikut ini Tips dalam PROSES PENYAPIHAN BERTAHAP:

1. Sapih anak dalam keadaan sehat. Hindari saat anak sedang sakit, marah arau sedih, karena akan membuat anak semakin tertekan dan tidak bahagia.

2. Komunikasikan keinginan menyapih dengan pasangan. Penyapihan dapat berjalan lancar bila ada dukungan positif dari suami. Selain itu, berbicaralah pada anak keinginan anda untuk menyapihnya walaupun kemampuan komunikasinya berlum berkembang baik, misal, “Sayang, minum susunya siang ini diganti dengan jus apel ya…. Enak loh jus apelnya, nih mami juga minum….”

3. Penjelasan logis. Jelaskan pada anak secara logis mengapa ia harus berhenti menyusu pada ibunya. Umpamanya, karena anak sudah berusia 2 tahun, sudah pintar makan nasi, buah, sayur dan sebagainya.

4. Bersikap lembut tetapi tegas dan konsisten. Jangan merasa bersalah karena waktu selama 2 tahun sudah lebih dari cukup.

5. Lakukan aktivitas menyenangkan antara ibu dan anak supaya ia tahu bahwa tak mendapat ASI bukan berarti tak dicintai. Alihkan perhatian anak / sibukkan anak dengan hal lain. Bisa dengan membacakan buku ke anak, bermain, bernyanyi, dsb. Hingga anak melupakan saat menyusu.

6. Jangan menawarkan ASI, atau memberikan ASI sebagai jurus ampuh saat anak rewel, terjatuh, atau menangis.

7. Berikan contoh melalui lingkungan sosial anak ataupun buku-buku bacaan yang menggambarkan tentang kemandirian tokoh yang tak lagi menyusu pada ibu.

8. Jangan mengoleskan obat merah/memberi plester/jamu-jamuan pada puting susu. Hal ini dapat menyebabkan keracunan pada anak. Selain itu, dampaknya, anak akan merasa ditolak oleh ibu dan merasa tidak dicintai apalagi jika ibu melakukannya dengan tiba-tiba. Efek panjangnya, anak mengalami kesulitan untuk menjalin interaksi sosial dengan orang lain.

9. Hindari secara tiba-tiba menitipkan anak di rumah neneknya selama berminggu-minggu, atau ke tampat pengasuhan anak setiap hari, karena proses adaptasi anak tidak cepat. Ia butuh waktu untuk merasa nyaman dengan lingkungan barunya, sebab proses penyapihan dengan cara menitipkan ke tempat lain membuat anak merasa tertekan. Ia harus beradaptasi dengan 2 hal sekaligus: kehilangan ASI dan berada pada tempat baru.

10. Jangan menyapih anak dengan mengalihkannya ke benda lain seperti empeng atau botol susu. Meski tidak ada larangan khusus, empeng atau dot berpeluang besar membuat anak jadi “malas makan”. Empeng juga berisiko membuat anak memiliki ikatan emosional yang kuat pada benda tersebut, sehingga kelak akan sulit mengubah kebiasaan mengempengnya. Selain itu bentuk anatomi gigi akan berubah menjadi maju/tonggos.

11. Hindari pemaksaan. Jika anak belum siap, ibu perlu mencari tahu penyebabnya. Mungkin ia sedang sakit atau apakah sikap ibu kurang sabar? Anak yang menolak disapih akan menunjukan reaksi kesal atau marah dengan menangis, rewel, gelisah atau lebih banyak diam.

12. Untuk menghilangkan kebiasaan menyusui sebelum tidur, anda harus memiliki rutinitas sebelum tidur atau tidur siang yang meliputi kegiatan-kegiatan seperti: membaca cerita sebelum tidur, menggosok punggung dan menawarkan susu pengganti ASI, gosok gigi dan piyama. 

13. Jika anak terbangun malam hari untuk minta ASI, usahakan agar ayah yang bangun untuk memberikan air putih dan mengajak kembali anak tidur dengan kata-kata yang lembut atau memberikan pelukan sampai anak tertidur. Bila Ibu yang datang menghampiri buah hati, besar kemungkinan anak akan menangis/merengek-rengek minta ASI.

14. Pegang dan peluk bayi saat anda memberinya susu botol. Cobalah untuk membuat suasana hangat dan nyaman ketika menyusui dengan botol. Jangan menyangga botol di kursi bayi atau membiarkan bayi memegang sendiri dan anda pergi. Ajak ayah, kakek, nenek dan saudara yang lain ikut serta memberi susu botol sehingga bayi dapat berhubungan dengan orang lain dan akan memudahkan anda bila akan meninggalkannya di rumah.

Sumber : facebook, lupa linknya. Maaf

Monday, January 26, 2015

Weaning with love for 'Ammaar

Jika ada yang bilang menyapih itu gampang, dan sudah membuktikannya, kuacungin 4 jempol deh dan pengen tau resepnya...

Di usia 'Ammaar yang sudah 22 bulan dan calon adeknya udah 6bulan, nenen masih jalan terus. Walaupun cuma pas mau bobo aja.

Kami memilih untuk menyapihnya dengan cinta, atau bahasa kerennya weaning with love.
Bagi kami, menyapih itu adalah proses kerelaan hati antara ibu dan bayi untuk mengakhiri proses menyusui dengan bantuan ayah dan orang2 terdekat lainnya. Bukan dengan cara menakut2i dengan ramuan pahit atau apalah yg biasa ditempelin ke nenen dengan maksud si bayi langsung gak mau nenen.

Tapi kami terus mengajak komunikasi terutama tiap mau tidur, atau tiap liat temen dan kartun kesukaannya, kita selipin cerita, bahwa 'Ammaar udah mau punya adek, mimik mamanya mau bobo dulu, disiapin buat adek kalau udah lahir. 'Ammaar udah bisa maem nasi, buah, mimik susu kotak. Adek cuma bisa mimik mama... gantian ya sama adeknya. Kalau pas goodmood sih dia bilang, ya ya ya ya... tapi kalau pas rewel dan badmood, dengan tegas dia geleng2.

Tak salah dengan sikapnya, karena ini memang proses yang harus dia lewati, dan kami  sebagai orang tua pun harus sabar. Menyusui adalah masa yg tak bisa digantikan oleh siapapun. Itulah masa-masa terindah buat ibu dan bayi, saat paling intim, tempat teraman dan ternyaman bagi bayi mulai dia lahir ke dunia.

Dan menyapih adalah masa perpisahannya... saatnya mama mulai melepaskan 'Ammaar untuk tumbuh lebih hebat lagi, makan lebih lahap dan sehat. Mama akan tetap peluk 'Ammaar tiap mau tidur, ayah juga akan tetap gendong 'Ammaar kalau ngantuk (gantinya nenen). Rasa sayang ayah dan mama tetap besar untuk 'Ammaar meskipun gak mimik mama lagi.
Kita akan coba terus masa menyapih dengan cinta, dengan kasih sayang...kita pasti bisa nak
:'(

Thursday, September 18, 2014

Sayangnya, ini bukan pilihan

Aku pun tak ingin merepotkan
Aku pun tak ingin cerewet
Aku pun tak ingin rewel
Aku pun tak ingin milih-milih makanan

Tapi sayangnya aku tak bisa memilih...
Bahkan bukan aku saja, semua yg mengalami apa yg kurasakan tak bisa memilih....
Karna ini kesyukuran yg harus kulewati dengan kesabaran

Sunday, September 14, 2014

Menjadi ayah

 CORE COMPETENCY AYAH 

Assalamu’alaykum…!

Salam Sabtu seru!

Para ayah, pernahkah terpikir menjadi ayah
itu butuh keahlian? Bahwa seorang ayah juga harus punya kompetensi inti ( core
competency ) yang layak?

Banyak lelaki di kolong langit ini berpikir
bahwa menjadi ayah adalah alamiah tanpa
perlu rekayasa. Tanpa perlu keilmuan dan
ketrampilan khusus. Bukankah saya otomatis menjadi ayah saat istri saya melahirkan anak
kami? Bukankah anak saya pasti akan
memanggil saya ‘ayah’, ‘bapak’, ‘abi’, dsb.?

Ah, andai menjadi ayah itu semata alamiah
maka tak mungkin Allah SWT. menurunkan
sejumlah ayat yang menyatakan bahwa anak adalah ujian bagi para ayah mereka.
“dan ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-
anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan
Sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang
besar.” (QS. al-Anfal: 28).

Menjadi ayah alamiah terlalu mudah. Tanpa
effort apapun kita sudah bisa menjadi ayah
saat anak-anak kita lahir. Namun sungguh
rugi bila kemudian anak-anak kita tumbuh
besar menjadi anak yang tak punya visi dan
misi hidup. Apalagi menjadi anak yang tak
mengenal jati dirinya sebagai muslim, dan
tak bangga dengan agamanya, apalagi turut
berjuang untuk agamanya.

Karenanya bila kita ingin menjadi ayah luar
biasa, bukan ayah yang ‘biasa-biasa saja’,
wajib memiliki core competency berikut ini:

✅ Menjadikan keimanan (bukan dunia)
sebagai dasar mendidik anak

Anak bukan untuk kesenangan dan ambisi
orang tua di dunia, tapi investasi hingga di akhirat. Berapa banyak ayah yang begitu fokus membesarkan
anaknya untuk obsesi duniawi, tapi begitu longgar untuk ketaatan pada Allah. Tidak heran bila banyak remaja
muslim yang kemudian tumbuh dengan
kepribadian terbelah; muslim tapi sekuler. Ia shalat tapi berpacaran,
berbakti pada orang tua tapi makan riba, dsb.
Saatnya para ayah menyadari memiliki anak dan mendidik anak adalah investasi dunia
dan akhirat. Bila berhasil menjadikan mereka
sebagai hamba Allah yang saleh, terikat
dengan hukum syara, tahu apa tujuan hidup
dan mati mereka, maka para ayah patut
berbahagia.

✅ Memahami hukum Islam sebagai
panduan mendidik anak.
Dengan apalagi kita akan mengarahkan anak
kita menuju kebaikan kalau bukan dengan ajaran Islam? Tak ada manual guide pendidikan anak sebaik ajaran Islam. Tuntunan Islam tak hanya
membimbing anak kita sukses menaklukkan dunia, tapi juga
berbahagia di akhirat.

✅ Penuh dengan simpanan kasih
sayang

Kasih sayang itu adalah sifat Allah SWT. Bahkan Allah menetapkan
kasih sayang atas diriNya sendiri.
“Tuhanmu telah menetapkan atas Diri-
Nya kasih sayang”(QS. al-An’am: 54).

Sudah sepantasnya kasih sayang selalu
berada di sifat terdepan para ayah dalam mengasuh dan mendidik anak, dan simpan kemarahan di bagian
terbelakang. Sebagaimana Allah SWT. juga menjadikan hal itu atas diriNya
sendiri, “Sesungguhnya rahmat-Ku lebih mengalahkan kemurkaan-Ku.”(HR.
Bukhari, Muslim).

Tentu saja masih ada kompetisi inti lain yang
harus dimiliki para ayah, tapi semoga tiga hal
mendasar ini jadi pedoman penting yang
harus dimiliki oleh mereka.

[Iwan Januar]
@iwanjanuarcom
Penulis Buku "Alhamdulillah, Aku Menjadi Ayah"

Sunday, July 27, 2014

Absen mudik

Tahun ini harus absen mudik, rasanya...
Jangan tanya, cukup lihat wajahku yang bete sepanjang beberapa hari ini.
Jangan tanya, cukup liat mataku yang sembab dan bengkak karena cuma bisa nangis liat postingan temen2 di sosmed.

Tidak pernah terbayang, setelah menikah aku harus absen mudik dengan alasan yang harus kubuat untuk menghormati orang lain (red = beliau).

Padahal ini belum hari H, tapi aku udah nyesek lihat bapak ibu packing. Ah sudahlah...

Iya, aku mengalah untuk gak mudik karena menjaga perasaan beliau yg harus melewati lebaran sendiri. Walaupun aku harus mengorbankan embahku untuk tidak lebaran bersama cicitnya. Aku mengalah, aku tau perasaan suamiku.
Tapi aku berharap dia tau perasaanku sebagai seorang perantau yg rindu tanah kelahiran. Sangat rindu...
Seperti seorang anak yg rindu ibunya...

Semoga Allah memudahkan kami untuk bisa slalu tiap lebaran ke tanah kelahiran. Aamiin :'(

Saturday, July 12, 2014

Surat dari Ghaza

Seluruh isi surat ini telah diterjemahkan ke Bahasa Indonesia dari Bahasa Arab, yang dikirim oleh seseorang bernama Abdullah Al Ghaza yang Mengaku dari Gaza City-Jalur Gaza melalui surat elektronik (Email) dan artikel diterbitkan oleh Buletin Islami

“Untuk saudaraku di Indonesia, mengapa saya harus memilih dan mengirim surat ini untuk kalian di Indonesia. Namun jika kalian tetap bertanya kepadaku, kenapa? Mungkin satu-satunya jawaban yang saya miliki adalah karena negri kalian berpenduduk muslim terbanyak di punggung bumi ini, bukan demikian saudaraku?

Di saat saya menunaikan ibadah haji beberapa tahun silam, ketika pulang dari melempar jumrah, saya sempat berkenalan dengan salah seorang aktivis dakwah dari jama’ah haji asal Indonesia, dia mengatakan kepadaku, setiap tahun musim haji ada sekitar 205 ribu jama’ah haji berasal dari Indonesia datang ke Baitullah ini. Wah, sungguh jumlah angka yang sangat fantastis dan membuat saya berdecak kagum.

Lalu saya mengatakan kepadanya, saudaraku, jika jumlah jama’ah haji asal Gaza sejak tahun 1987 sampai sekarang digabung, itu belum bisa menyamai jumlah jama’ah haji dari negara kalian dalam satu musim haji saja. Padahal jarak tempat kami ke Baitullah lebih dekat dibanding kalian. Wah pasti uang kalian sangat banyak, apalagi menurut sahabatku itu ada 5% dari rombongan tersebut yang menunaikan ibadah haji yang kedua kalinya, Subhanallah.

Wahai saudaraku di Indonesia,

Pernah saya berkhayal dalam hati, kenapa saya dan kami yang ada di Gaza ini, tidak dilahirkan di negri kalian saja. Pasti sangat indah dan mengagumkan. Negri kalian aman, kaya, dan subur, setidaknya itu yang saya ketahui tentang negri kalian.

Pasti ibu-ibu disana amat mudah menyusui bayi-bayinya, susu formula bayi pasti dengan mudah kalian dapoatkan di toko-toko dan para wanita hamil kalian mungkin dengan mudah bersalin di rumah sakit yang mereka inginkan.

Ini yang membuatku iri kepadamu saudaraku, tidak seperti di negri kami ini. Tidak jarang tentara Israel menahan mobil ambulance yang akan mengantarkan istri kami melahirkan di rumah sakit yang lebih lengkap alatnya di daerah Rafah. Sehingga istri kami terpaksa melahirkan di atas mobil, ya di atas mobil saudaraku.!

Susu formula bayi adalah barang langka di Gaza sejak kami diblokade 2 tahun yang lalu, namun istri kami tetap menyusui bayi-bayinya dan menyapihnya hingga 2 tahun lamanya, walau terkadang untuk memperlancar Asi mereka, istri kami rela minum air rendaman gandum.

Namun, mengapa di negri kalian, katanya tidak sedikit kasus pembuangan bayi yang tidak jelas siapa ayah dan ibunya. Terkadang ditemukan mati di parit-parit, selokan, dan tempat sampah. Itu yang kami dapat dari informasi di televisi.

Dan yang membuat saya terkejut dan merinding, ternyata negri kalian adalah negri yang tertinggi kasus aborsinya untuk wilayah Asia. Astaghfirullah. Ada apa dengan kalian? Apakah karena di negri kalian tidak ada konflik bersenjata seperti kami disini, sehingga orang bisa melakukan hal hina seperti itu? Sepertinya kalian belum menghargai arti sebuah nyawa bagi kami disini.

Memang hampir setiap hari di Gaza sejak penyerangan Israel, kami menyaksikan bayi-bayi kami mati. Namun, bukanlah di selokan-selokan atau got-got apalagi di tempat sampah. Mereka mati syahid saudaraku! Mati syahid karena serangan roket tentara Israel!

Kami temukan mereka tak bernyawa lagi di pangkuan ibunya, di bawah puing-puing bangunan rumah kami yang hancur oleh serangan Zionis Israel. Saudaraku, bagi kami nilai seorang bayi adalah aset perjuangan kami terhadap penjajah Yahudi. Mereka adalah mata rantai yang akan menyambung perjuangan kami memerdekakan negri ini.

Perlu kalian ketahui, sejak serangan Israel tanggal 27 Desember 2009 kemarin, saudara-saudara kami yang syahid sampai 1400 orang, 600 di antaranya adalah anak-anak kami, namun sejak penyerangan itu pula sampai hari ini, kami menyambut lahirnya 3000 bayi baru di jalur Gaza, dan Subhanallah kebanyakan mereka adalah anak laki-laki dan banyak yang kembar, Allahu Akbar!

Wahai saudaraku di Indonesia,

Negri kalian subur dan makmur, tanaman apa saja yang kalian tanam akan tumbuh dan berbuah, namun kenapa di negri kalian masih ada bayi yang kekurangan gizi, menderita busung lapar. Apa karena sulit mencari rizki disana? Apa negri kalian diblokade juga?

Perlu kalian ketahui saudaraku, tidak ada satupun bayi di Gaza yang menderita kekurangan gizi, apalagi sampai mati kelaparan, walau sudah lama kami diblokade. Sungguh kalian terlalu manja! Saya adalah pegawai tata usaha di kantor pemerintahan HAMAS sudah 7 bulan ini belum menerima gaji bulanan saya. Tetapi Allah SWT yang akan mencukupkan rizki untuk kami.

Perlu kalian ketahui pula, bulan ini saja ada sekitar 300 pasang pemuda baru saja melangsungkan pernikahan. Ya, mereka menikah di sela-sela serangan agresi Israel. Mereka mengucapkan akad nikah diantara bunyi letupan bom dan peluru, saudaraku.

Dan Perdana Menteri kami, Ust Isma’il Haniya memberikan santunan awal pernikahan bagi semua keluarga baru tersebut.

Wahai saudaraku di Indonesia,

Terkadang saya pun iri, seandainya saya bisa merasakan pengajian atau halaqah pembinaan di negri antum (anda). Seperti yang diceritakan teman saya, program pengajian kalian pasti bagus, banyak kitab mungkin yang kalian yang telah baca. Dan banyak buku-buku pasti sudah kalian baca. Kalian pun bersemangat kan? Itu karena kalian punya waktu.

Kami tidak memiliki waktu yang banyak disini. Satu jam, ya satu jam itu adalah waktu yang dipatok untuk kami disini untuk halaqah. Setelah itu kami harus terjun ke lapangan jihad, sesuai dengan tugas yang diberikan kepada kami.

Kami disini sangan menanti-nantikan saat halaqah tersebut walau hanya satu jam. Tentu kalian lebih bersyukur. Kalian punya waktu untuk menegakkan rukun-rukun halaqah, seperti ta’aruf, tafahum, dan takaful disana.

Hafalan antum pasti lebih banyak daripada kami. Semua pegawai dan pejuang HAMAS disini wajib menghapal Surah Al-Anfal sebagai nyanyian perang kami, saya menghafal di sela-sela waktu istirahat perang, bagaimana dengan kalian?

Akhir Desember kemarin, saya menghadiri acar wisuda penamatan hafalan 30 Juz anakku yang pertama. Ia merupakan diantara 1000 anak yang tahun ini menghafal Al-Qur’an dan umurnya baru 10 tahun. Saya yakin anak-anak kalian jauh lebih cepat menghapal Al-Qur’an ketimbang anak-anak kimi disini. Di Gaza tidak ada SDIT (Sekolah Dasar Islam Terpadu) seperti di tempat kalian yang menyebar seperti jamur di musim hujan. Disini anak-anak belajar diantara puing-puing reruntuhan gedung yang hancur, yang tanahnya sudah diratakan, diatasnya diberi beberapa helai daun kurma. Ya, di tempat itu mereka belajar, saudaraku. Bunyi suara setoran hafalan Al-Qur’an mereka bergemuruh dianatara bunyi-bunyi senapan tentara Israel. Ayat-ayat jihad paling cepat mereka hafal, karena memang didepan mereka tafsirnya. Langsung mereka rasakan.

Oh iya, kami harus berterima kasih kepada kalian semua, melihat solidaritas yang kalian perlihatkan kepada masyarakat dunia. Kami menyaksikan aksi demo-demo kalian disini. Subhanallah, kami sangat terhibur. Karena kalian juga merasakan apa yang kami rasakan disini.

Memang banyak masyarakat dunia yang menangisi kami disini, termasuk kalian yang di Indonesia. Namun, bukan tangisan kalian yang kami butuhkan , saudaraku. Biarlah butiran air matamu adalah catatan bukti akhirat yang dicatat Allah sebagai bukti ukhwah kalian kepada kami. Doa-doa dan dana kalian telah kami rasakan manfaatnya.

Oh iya, hari semakin larut, sebentar lagi adalah giliran saya menjaga kantor, tugasku untuk menunggu jika ada telpon dan fax yang masuk. Insya Allah, nanti saya ingin sambung dengan surat yang lain lagi. Salam untuk semua pejuang-pejuang Islam dan ulama-ulama kalian.

Saudaramu di Gaza,

Abdullah Al Ghaza
From group #skyfighter
Diteruskan oleh Ummu 'Ammaar

*jika ingin mengcopas, diharapkan menuliskan sumber dan penerus.